Talkshow Research 2011
Talkshow Bersama Dr. Endang Sukara

Pada hari Rabu, 21 September 2011 kemarin, UQISA sebagai perkumpulan pelajar Indonesia di University of Queensland (UQ) menggelar acara Talk Show dengan tema “Riset dan hubungannya dengan pengambilan keputusan di Indonesia” yang bertempat di kampus UQ, Brisbane, Australia. Talk show kali ini menghadirkan Prof. DR. Endang Sukara, Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai pembicara utama. Beliau tercatat sebagai salah satu alumni UQ yang baru saja terpilih menjadi pemenang dalam kompetisi “Australian Alumni Award for Excellence in Research 2011” dan berkesempatan tampil secara khusus atas undangan UQ untuk menjadi pembicara pada seminar “Research trends in Indonesia and an introduction to the Indonesian Institute of Science (LIPI)”. Hadir juga sebagai pembicara, Medrilzam (PhD candidate) yang juga sebagai birokrat di Bappenas dengan berbagai pengalaman dalam bidang penelitian di dunia birokrasi Indonesia. Pembicara ke 3 adalah Dr.Beben Benyamin, peneliti yang memilih tinggal di Australia dan berkiprah di dunia riset internasional, dan Vira Ramelan, PhD candidate, sebagai moderator.
Talk Show ini bertujuan untuk memberikan perspektif baru bagi para pelajar dan peneliti Indonesia khususnya yang sedang belajar di luar negeri untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai seluk-beluk riset Indonesia mulai dari birokrasi, aplikasi hasil riset, dan kaitannya dengan riset internasional. Dalam diskusi ini, selain dijelaskan sejarah perkembang dunia penelitian di Indonesia, juga dijelaskan peranan ilmu pengetahuan dan penelitian agar bisa menjadi bagian yang tidak terpisahkan, dan bahkan menjadi bagian terkuat dalam pengambilan keputusan. Prof. Sukara juga menekankan pentingnya pendekatan diagonal agar riset anak bangsa dapat diakui oleh pemerintah Indonesia sebagai mana halnya dunia internasional yang telah mengakui hak paten LIPI dengan jumlah rata-rata 50 penemuan baru tiap bulannya.
Pembicara lainnya, Medrilzam, menyebutkan kendala komunikasi antara ilmuwan, politikus serta pemerintah sebagai pengambil keputusan yang menyebabkan tidak diprioritaskannya ilmu pengetahuan sebagai sumber masukan pengambilan keputusan. Namun, Beben Benyamin tetap menyatakan rasa optimisnya terhadap dunia riset Indonesia dan menekankan pentingnya jaringan kerja (networking) bagi para peneliti dengan sektor-sektor lain.
Pada sesi akhir diskusi, ketiga pembicara sepakat bahwa masih ada potensi besar para peneliti untuk berkontribusi pada pembangunan Indonesia. Oleh karena itu diperlukan mengemas (packaging) hasil riset dalam bahasa yang lebih menarik dan dapat dengan mudah dimengerti oleh masyarakat di luar peneliti. Selain itu, selain itu diperlukan sinerji dan kerjasama yang kuat dari setiap elemen baik antara peneliti, pemerintah, akademik, lembaga politik dan swasta.
Presiden UQISA 2011-2012, Darmawan Atmoko, dalam sambutannya juga menyatakan harapannya agar diskusi tersebut dapat menggerakkan budaya yang kondusif dan agenda konkrit Persatuan Pelajar Indonesia Australia untuk menjadikan riset sebagai dasar pembuatan kebijakan jangka pendek, menengan dan panjang untuk masa yang akan datang. Darmawan menutup sambutannya dengan menyerahkan abstrak pelajar Indonesia di UQ yang sedang melakukan penelitian sebagai simbol dari kontribusi anak bangsa untuk kemajuan Indonesia. Diskusi akademis yang pertama kali digelar sejak pergantian kepengurusan UQISA peridode 2011-2012 ini disambut hangat dan dihadiri oleh sekitar 60 peserta yang terdiri dari mahasiswa dari beberapa universitas di negara bagian Queensland dan kalangan non-mahasiswa.